MAKALAH
“Pembesaran Ikan Jelawat”
Disusun Untuk Pemenuhan Tugas
Teknik Pembesaran Komoditas PAT
Oleh Kelompok 4 : 1. Chalsabilla Aurelya
2. Lukman Hakim
3. Haris Irawan
4. Darma Pranata
Kelas : XI APAT
SMK Negeri 1 KUMAI
Tahun Ajaran : 2019 - 2020
DAFTAR ISI
JUDUL
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
BAB I Pendahuluan
A. Latar Belakang................................................................................................................2
B. Rumusan Masalah...........................................................................................................3
C. Tujuan Pembahasan........................................................................................................3
BAB II Pembahasan
1. Aspek Biologi dan lingkungan Ikan Jelawat
a. Morfologi...........................................................................................................4
b. Penyebaran.........................................................................................................5
c. Habitat................................................................................................................5
d. Kebiasaan Makan dan Cara Makan................................................................... 6
e. Reproduksi Ikan Jelawat.....................................................................................6
2. Metode Pembenihan
A. Rancang Bangun.................................................................................................7
B. Penyediaan Induk...............................................................................................9
C. Pematangan Gonad...........................................................................................10
D. Seleksi Induk.................................................................................................... 11
E. Pemijahan........................................................................................................ 12
F. Penetasan Telur.................................................................................................16
G. Kualitas Air.......................................................................................................16
H. Pemeliharaan Larva dan Benih.........................................................................17
BAB III Penutup
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya tentunya kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-nantikan syafa’atnya di akhirat nanti.
Tak lupa pula senantiasa bersyukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya , baik berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga kami mampu untuk menyelesaikan pembuatan makalah sebagai tugas rumah berkelompok dengan judul “Pembesaran Ikan Jelawat”.
Kami menyadari tentunya bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan didalamnya. Untuk itu, kami mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini,supaya makalah ini nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi. Dan apabila terdapat kesalahan pada makalah ini kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak khususnya Guru Perikanan dan Guru Bahasa Indonesia kami yang telah membimbing dalam menulis makalah ini.
Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat,
Terima Kasih
Teluk Bogam , 27 Maret 2020
BAB I Pendahuluan
A. Latar Belakang
Potensi sumber daya perikanan Indonesia sangat menjanjikan, terutama ikan air tawar yang saat ini banyak menghasilkan devisa untuk pemasukan negara. Kalimantan Tengah khususnya, memilki perairan tawar yang terdiri dari rawa, lahan gambut, danau, anak sungai serta sungai besar seperti sungai Arut yang cukup potensial untuk dkembangkan sebagai kawasan budidaya khususnya perikanan budidaya air tawar. Salah satu komoditas ikan air tawar yang memiliki prospek untuk dikembangkan adalah ikan Jelawat ( Leptobarbus Hoeveni ).
( Ditjen Perikanan Budidaya, 2009), menyebutkan bahwa ikan jelawat ( Leptobarbus Hoeveni ) adalah ikan asli Indonesia yang terdapat dibeberapa sungai di Sumatera dan Kalimantan. Ikan jelawat merupakan jenis ikan yang sangat digemari masyarakat Indonesia bahkan beberapa negara tetangga. Adapun untuk jenis ikan ini memiliki harga pasar Rp. 30.000 – Rp. 45.000/kg. Bahkan untuk ikan jelawat dengan kualitas paling baik harganya berkisar antara Rp. 50.000 – Rp. 80.000/kg. Hal ini berdasarkan laporan statistik perikanan budidaya. Ikan jelawat termasuk komoditas ekspor potensial dan mempunyai prospek yang cerah untuk dikembangkan budidayanya dimasa yang akan datang.
Ikan jelawat sudah banyak dikembangbiakan dan dibudidaykan di Kalimantan terutama diperairan umum. Penyediaan benih yang selama ini menjadi masalah dalam budidaya sudah dapat diatasi dengan keberhasilan teknologi pemijahan buatan dengan metode kawin suntik ( induce breeding ). Melalui rangsangan hormon, ikan jelawat telah berhasil dikembangkan dengan produksi benih sekitar 15.000 ekor/satu pasang induk dengan bobot 3 kg.
Salah satu faktor yang memengaruhi keberhasilan usaha budidaya ikan jelawat secara berkelanjutan adalah ketersediaan benih yang tepat, jumlah, waktu dan mutu yang baik. Dengan kata lain dalam budidaya ikan tersebut, jaminan penyediaan benih ikan baik itu kualitas, kuantitas dan kontinyu tetap terjaga. Oleh karena itu teknologi pembenihan ikan jelawat perlu dikembangkan dan dipublikasikan kepada masyarakat luas.
B. Rumusan Masalah
Keberhasilan pemijahan buatan ikan jelawat sebagai ikan lokal belum banyak diketahui oleh masyarakat luas. Untuk itu, teknologi pembenihan ikan jelawat yang sudah dapat dilakukan di BBI sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis Dinas Perikanan dan Kelautan perlu di pelajari lagi, sehingga dapat diperoleh gambaran teknologi pemijahan yang tepat guna, permasalahan yang dihadapi pembudidaya ikan jelawat dan alternatif dari permasalahan yang ada di BBI tersebut.
C. Tujuan Pembahasan
Tujuan dari pembahasan ini adalah mempelajari secara tidak langsung kegiatan pembenihan ikan jelawat yang meliputi pengelolaan induk, pematangan induk, pengelolaan kualitas air, penetasan telur maupun pemeliharaan larva. Sedangkan manfaat yang diperoleh adalah menambah pengetahuan, keahlian dan keterampilan siswa dalam teknik pembesaran ikan jelawat mullai dari teknik pemijahan hingga perawatan ikan, sehingga diharapkan kedepannya dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Kalimantan Tengah akan Ikan jelawat.
BAB II Pembahasan
1. Aspek Biologi dan Lingkungan Ikan Jelawat
a. Morfologi
Menurut (Saanin,1984) bahwa klasifikasi ikan jelawat ( Leptobarbus hoeveni) sebagai berikut:
Phylum : Chordata
Kelas : Pisces
Ordo : Cypriniformes
Sub Ordo : Cyprinoidae
Famili : Cyprinidae
Sub Famili : Cyprininae
Genus : Leptobarbus
Spesies : Leptobarbus Hoeveni
Menurut (Ditjenkan budidaya,2004), secara morfologi ikan jelawat memilki bentuk tubuh agak bulat dan memanjang, mencerminkan bahwa ikan jelawat termasuk perenang cepat. Kepala bagian sebelah atas agak mendatar, mulut berukuran sedang, garis literal tidak terputus, bagian punggung berwarna peraak kehijauan dan bagian perut putih keperakan, pada sirip dada dan perut terdapat warna merah, gurat sisi melengkung agak kebawah dan berakhir pada bagian ekor bawah yang berwarna kemerah-merahan, mempunyai 2 pasang sungut. Posisi perut terhadap sirip pada abnormal dan sirip ekor bentuknya bercagak, gurat sisi berada di atas sirip dada memanjang mulai dari belakang overculum sampai pangkal sirip ekor (Hardjamulia et al 1991).
Gambar ikan Jelawat
b. Penyebaran
Menurut Hardjamulia et al (1991), ikan jelawat dikenal dengan beberapa nama daerah antaranya : Jelawat ( Riau, Jambi, Sumatera Selatan dan Lampung), Manjuhan ( Kalimantan Tengah), Sultan ( Malaysia) dan Plaba (Thailand), ikan Jelawat berukuran 10-12 cm disebut jelejer di Jambi, Sumatera Selatan dan Lampung, sedangkan Kalimantan Barat khususnya ditemui jenis ikan mirip bentuknyaa seperti jelawat yang dikenal dengan sebutan jelawat batu yang berukuran lebih kecil dari ikan jelawat, maksimal 1 kg per ekor. Sunarnao (1989), mengatakan bahwa ikan jelawat tersebar di perairan-perairan sungai dan daerah genangan atau rawa di Kalimantan, Sumatera serta kawasan Asia Tenggara dan lainnya seperti Malaysia, Thailand dan Kamboja.
c. Habitat
Asyari dan Gaffar (1993) menyatakan bahwa ikan jelawat banyak ditemui di sungai-sungai dan daerah genangan kawasan tengah hingga hilir, bahkan di bagian muara sungai, dan pada saat air menyusut, benih ikan jelawat adalah anak-anak sungai yang berlubuk dan berhutan dibagian pinggirnya ( Ondara & sonarno,1988). Untuk anakannya banyak ditemukan didaerah genangan dari Daerah Aliran Sungai (DAS). Pada saat air menyusut, anak-anak ikan jelawat secara bergerombol beruaya ke arah bagian hulu dari sungai. Ikan jelawat dapat hidup pula pada pH 5-7, oksigen terlarut 5-7 ppm dan suhu 25-30 oC serta di perairan suhu perairan sedang (Harjamulia, 1992).
Perairan tawar sebagai habitat ikan Jelawat memerlukan kondisi fisika dan kimia air yang optimal. Ikan jelawat biasanya hidup di perairan yang bersuhu 25-37 oC, oksigen terlarut 4-9 mg/1 ( Pantulu, 1979) dan pH air 6,3-7,5. Namun demikian, untuk hidup normal dan tumbuh baik, ikan ini memerlukan suhu 26-28,5 oC dan oksigen terlarut 5-7 ppm, dan pH air 7,0-7,5. ( Dari berbagai sumber by:Triyanto).
d. Kebiasaan Makan dan Cara Makan
Secara alamiah ikan jelawat merupakan ikan omnivora dan cenderung herbivora yang rakus. Jelawat muda dan dewasa memakan biji-bijian, buah-buahan, singkong dan daunnya, bungkil kelapa dan tumbuhan air (Said,1999). Dari bentuk mulut diketahui bahwa ika jelawat lebih menyukai makanan yang melayang dan termasuk ikan yang memakan dengan cara menyambar, namun demikian ikan ini juga memakan yang berada di dasar perairan.
Menurut Djariyah (1995), pakan ikan adalah campuran dari berbagai bahan pangan (biasanya disebut bahan mentah), baik nabati maupun hewani yang diolah sedemikian rupa sehingga mudah dimakan dan sekaligus merupakan sumber nutrisi ikan. Ikan jelawat yang dipelihara dikolam dapat memakan singkong, daun singkong, daun pepaya, ampas dan bungkil kelapa, cincangan daging ikan, ikan rucaah, usus ayam dan pakan buatan berbentuk pelet ( Sunarno dan Reksalegora 1982). Sunarno juga menyatakan bahwa ikan jelawat yang diberikan pakan berbentuk pelet cenderung tumbuh lebih cepat dari pada yang diberikan pakan berbentuk gumpalan.
Sachlan dan Wiraatmaja dalam Harjamulia (1992), menyebutkan didalam usus ikan ditemukan biji-bijiann, buah-buahan dan tumbuhan air. Sedangkan di dalam usus benih ikan jelawat ditemukan berbagai jenis plankton, algae dan larva serangga air. Dalam lingkungan pemeliharaan terkontrol, ikan jelawat juga menyantap makanan buatan berbentuk pellet bahkan mau makan singkong, daun singkong dan usus ayam (Suarno dan Reksalegora,1982).
e. Reproduksi Ikan Jelawat
Ikan jelawat dialam melakukan pemijahan selama musim penghujan, yaitu pada saat permukaan air naik dan menggenangi daerah sekitarnya. Pada kondisi tersebut, induk jelawat secara bergerombol beruaya ke arah muara dari anak sungai, dan proses pemijahan terjadi pada muaranya. Waktu pemijahan terjadi pagi hari yang diiringi oleh rintik hujan. Ukuran induk yang memijah lebih dari 2,5 kg/ekor dengan nilai indeks gonad somatic (perbandingan antara bobot gonad dan bobot tubuh ikan) lebih dari 14,4 cm dan diameter telur 1,55 mm ( Tan, 1980; AARD,1987 dalam Puslitbang).
Menurut prasetyo (1993) bahwa ikan biasanya memijah pada musim penghujan dana sacara umum hanya berlangsung selama 6 bulan dalam satu tahun dengan kisaran waktu yaitu bulan oktober – april. Sebelum musim pemijahan tiba, induk yang sudah matang gonad akan mencari tempat yang cocok untuk melakukan pemijahan. Daerah yang disukai adalah daerah hulu sungai yang biasanya pada musim kemarau kering, pada musim penghujan tergenang. Daerah seperti ini memberikan rangsangan dalam pemijahan.
2. Metode Pembenihan
A. Rancang Bangun
Rancang bangun pembenihan ikan memerlukan beberapa pertimbangan, yaitu loksi bangunan dan bentuk bangunan.
· Pemilihan Lokasi
Dalam melakukan pemilihan lokasi haruslah memperhatikan faktor-faktor teknis maupun nonteknis seperti ekonomis. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari kerugian akibat salah penilaian saat melakukan pemilihan lokasi, misalnya debit air tidak mencukupi saat musim kemarau atau mengalami kebanjiran saat musim penghujan ( Anonim,2007).
1. Persyaratan lokasi perkolaman
Untuk budidaya ikan, kolam mempunyai perairan yang sangat penting karena selain sebagai media pemeliharaan ikan juga sebagai media tumbuhnya pakan alami yang dibutuhkan ikan.
Beberapa persyaratan lokasi perkolaman meliputi:
- Sumber air : dekat dengan sungai, irigasi atau sumber air lainnya sehingga mendapat suplai air sepanjang tahun
- Kondisi tanah : berpotensi menumbuhkan pakan alami yaitu tanah liat sedikit berpasir dan tidak poros.
- Kedalaman air : minimal kedalaman air 80-100 cm
- Lingkungan : bebas dari pencemaran, dilengkapi dengan prasarana jalan, listrik, terjamin keamanan dan mudah untuk pemasaran hasil.
2. Persyaratan lokasi di Karamba
Budidaya ikan sistem karamba bertitik tolak dari kurangnya lahan kolam untuk budidaya dan sekaligus sebagai upaya optimalisasi pemanfaatan perairan umum usaha budidaya.
Selain ditempatkan di sungai, karamba juga dapat ditempatkan di danau, waduk atau perairan umum lainnya, akan tetapi tetap harus memperhatikan persyaratan lokasi agar menjamin usaha budidaya yang dilakukan dapat menguntungkan.
Persyaratan lokasi penempatan karamba yaitu:
- Kondisi perairan
Perairan umum yang bebas dari pencemaran dan aman dari adanya kemungkinan banjir bandang yang bisa menghanyutkan karamba. Kedalaman air minimal 1 m saat surut terendah, cukup sinar matahari, arus air cukup deras atau mengalir dan terbebas dari gulma atau sampah.
- Lingkungan
Mudah dalam transportasi, aman dari pencurian dan pemangsa ikan, dekat dengan pasar atau mudah dalam pemasaran hasil (Anonim,2007).
- Faktor sosial
Faktor sosial harus juga diperhatikan terutama disekeliling bangunan pembenihan ikan. Yang perlu diperhatikan adalah tingkat pendidikan masyarakat, pendapatan atau pekerjaan masyarakat dan status tanah (Anonim, 2003).
· Bentuk Bangunan
Usaha pembenihan ikan membutuhkan beberapa macam bangunan yang masing-masing mempunyai fungsi yang berbeda-beda. Bangunan utama adalah bangunan yang khusus untuk kegiatan operasional pembenihan ikan. Bangunan utama terdiri atas bak penampungan air, bak penampungan induk, bak penetasan telur, bak pemeliharaan larva, bak pemeliharaan benih dan bak penyediaan pakan alami, pada bangunan utama juga terdapat ruangan administrasi tempat pencatatan semua kegiatan operasional pembenihan ikan.
Bangunan utama harus ditata sedemikian rupa sehingga letak setiap bak teratur dan efisien dalam operasional kegiatan pembenihan. Berikut ini ada alternatif tata letak bangunan pembenihan ikan (Kiswalejo,2003).
a. Bangunan penunjang, yakni bangunan yang mendukung kegiatan operasional. Bangunan ini terdiri atas bangunan laboratorium dan gudang. Bangunan laboratorium sebagai tempat pengamatan hama atau penyakit ikan dan analisis kualitas air. Alat-alat yang tersedia pada bangunan ini adalah alat bedah ikan, mikroskop, bahan kimia dan sebagainya. Gudang berfungsi untuk menyimpan peralatan kegiatan pembenihan ikan, seperti ember, hapa, selang, seser dan sebagainya.
b. Bak penampungan air, yakni bak untuk menampung air bersih. Selama kegiatan pembenihan ikan, air bersih harus tersedia. Bak penampungan air dapat terbuat dari bak semen atau fiberglass. Luas bak penampungan air disesuaikan dengan kebutuhan. Bak penampunganair ditempatkan sedemikian rupa sehingga memudahkan pengoperasian. Bak penampungan induk berfungsi untuk menampung induk yang akan dipijahkan.
c. Bak penetasan, yakni bak yang berfungsi untuk menetaskan telur ikan jelawat. Penetasan telur yang terbuat dari akuarium lebih menghemat tempat karena dapa disusun secara bertingkat. Bak penetasan telur dapat dijadikan sekaligus sebagai tempat pemeliharaan larva ikan jelawat.
d. Bak pemeliharaan benih, yakni bak yanng digunakan untuk pemeliharaan ikan jelawat. Bak pemeliharaan benih biasanya terbuat dari semen atau fiberglass. Bak pemeliharaan benih dapat dibuat dengan ukuran tinggi 0,3 m, lebar 1 m dengan panjang 2 m atau tergantung pada kebutuhan. Jumlah bak pemeliharaan benih perlu didesain dengan baik agar rotasi kegiatan pembenihan dapat berjalan secara terus-menerus. Setiap ukuran benih ikan jelawat ditempatkan pada bak tersendiri.
e. Bak pakan alami, yakni bak yang berfungsi untuk budidaya paka alami. Bak pakan alami ini terdiri atas corong penetasan artemia. Cororng penetasan artemia terbuat dari plastik atau fiberglass. Bentuk corong penetasan artemia adalah trapesium dan bagian bawah corong dipasangi keran.
B. Penyediaan Induk
Keberhasilan pengembangan budidaya ikan sangat ditentukan antara lain oleh pasok benih baik dari segi kualitasnya maupun kuantitasnya. Sedangkan kualitas benih dipengaruhi oleh kualitas induk (faktor genetis) dan faktor lingkungan , seperti kualitas air, makanan, penyakit dan parasit.
Peningkatan kualitas induk melalui peningkatan sifat genetis dapat dilakukan melalui seleksi calon-calon induk. Di samping itu, penngelolaan induk dalam suatu usaha pembenihan (BBI atau hatchery) sangat menentukan mutu benih yang dihasilkan, antara lain menyebabkan silang dalam (in breeding) yang menghasilkan keturunan yang rendah kualitasnya, terutama pertumbuhan yang lambat (Hardjamutia,1988). Akibat silang dalam produksi dapat menurun sampai 10-20 %.
Penyediaan induk dapat dilakukan dengan cara seleksi terhadap stok induk yanng ada, menangkap dari alam dan membekali dari tempat lain atau impor, dan dengan cara gynonegesis. Untuk calon induk jelawat dapat diperoleh dari hasil tangkapan di alam atau dari hasil pembesaran dikolam atau karamba. Pada kondisi pemeliharaan secara tradisional atau hasil tengkapan di alam bobot calon induk lebih dari 1,5 kg diperkirakan mempunyai umur sekitar 3 tahun. Akan lebih baik jika calon induk yang dipilih dari hasil pembesaran karena sudah terbiasa dengan kondisi makanan dari luar dala lingkungan yang terkontrol dan biasanya lebih jinak. Calon induk minimal 2,5 tahun (Kristanto, 1994).
C. Pematangan Gonad
Induk dipelihara dalam kolam khusus berukuran 500-700 m2 penebaran 0,1- 0,25 kg/m2. Selama pemeliharaan, induk ikan diberi pakan pelet dengan kandungan protein 25-28 %. Pakan diberikan sebanyak 3 % dari berat badan dengan frekuensi 2-3 per hari.
Selain pelet diberikan juga pakan berupa hijau-hijauan seperti daun singkong secukupnya. Lama pemeliharaan induk lebih kurang 8 bulan. Induk yang siap pijah diperoleh dengan cara seleksi. Untuk proses pematangan gonad pada ikan perlu diadakan pengelolaan induk. Pengelolaan induk adalah pemeliharaan induk secara intensif agar menghasilkan benih sesuai dengan permintaan pasar. Pengelolaan induk di antara para petani sangat bervariasi , bergantung dari pengetahuan, pengalaman, dan sosial ekonomi mereka ( Hardamulja, 1975).
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan induk, yaitu kualitas air, wadah pemeliharaan, padat penebaran, kualitas dan jumlah makanan.
1. Kualitas Air
Hasil penelitian tentang pengaruh kualitas air terhadap kualitas induk (fekunditas dan kualitas telur) masih langka. Hasil penelitian yang ada hanya mengenai pengaruh oksigen terhadap jumlah telur yang diproduksi. Induk yang dipelihara dalam konsentrasi oksigen 5 mg/l menghasilkan jumlah telur dan frekuensi pemijahan tinggi ( Hardjamulja, 1987).
2. Wadah pemeliharaan
Calon induk dapat dipelihara didalam kolam biasa, kolam air deras, bak, jaring terapung, dan karamba. Calon induk jelawat dapat dipelihara dikolam permanen atau semi permanen dengan kedalaman air berkisar antara 70-100 cm dengan sistem air mengalir dan di karamba.
3. Padat Penebaran
Padat penebaran tergantung dari jenis ikan, kualitas air dan makanan yang tersedia. Pada cara tradisional yang ekstensif, baik untuk jenis-jenis ikan asli maupun introduksi, padat penebaran berkisar antara 10-20 ekor induk (Hardjamulja, 1980).
Padat penebaran yang ideal untuk calon induk jelawat yang dipelihara dikolam adalah 1 ekor/10 m2 .Sedangkan pemeliharaan calon induk di karamba tingkat kepadatan 1-2 ekor/m2.
4. Kualitas dan Jumlah Makanan
Jumlah makanan yang cukup dengan mutu yang baik merupakan pakan faktor yang paling penting untuk memproduksi induk yang memiliki kualitas prima. Defisiensi nutrien essensial terutama asam amino, vitamin, dan mineral menyebabkan perkembangan telur terhambat dan akhirnya terjadi kegagalan ovulasi (wynarovich dan Horvath, 1980). Pertumbuhan gonad terjadi jika terdapat kelebihan energi untuk pemeliharaan tubuh ( Elliot, 1979). Sedangkan kekurangan energi dapat meningkatkan oosit yang mengalami atresia sehingga mempunyai oosit yang matang (WOOTON, 1979).
Pakan yang diberikan berupa pakan pellet dengan kandungan protein 25-28 % dan dosis 3-5 % dari bobot biomassa dengan frekuensi pemberian pakan 3 kali sehari, yaitu diberikan pada pagi, siang dan sore hari (Kristanto, 1994).
D. Seleksi Induk
Tujuan dari seleksi induk adalah untuk mendapatkan induk yang mempunyai produktivitas tinggi dengan ciri morfologi yang dikehendaki dan dapat diturunkan. Produktivitas yang tinggi ini terutama dicirikan oleh sifat cepat tumbuh dan kelangsungan hidup yang tinggi pada lingkungan budidaya tertentu (kolam tradisional, kolam air deras, jaring terapung dan sebagainya dengan ciri lingkungan, khusunya kualitas air yang berbeda). Ada dua metode seleksi induk, yaitu seleksi masa dan seleksi famili ( Sutisna dan Ratno, 1995).
1. Seleksi Masa
Seleksi masa ataupun seleksi individu merupakan seleksi buatan terhadap keturunan hasil pemijahan induk-induk yang mempunyai fenotipe yang terbaik (Kripichinikov, 1981). Sifat-sifat yang diseleksi meliputi bobot atau ukuran, keragaman luar, pigmentasi, keadaan sisik, tidak cacat, ketahanan terhadap lingkungan dari penyakit, jumlah tulang dalam otot, ukuran gelembung renang, dan lain-lain. Kemungkinan kesalahan dalam memperoleh sifat yang diharapkan sungguh besar karena genotipe dari ikan yanng diseleksi atau yang tidak diseleksi tidak diketahui.
2. Seleksi Famili
Seleksi ini dilakukan untuk memperoleh beberapa famili yang merupakan keturunan dari pasangan-pasangan induk atau kelompok pasangan dalam jumlah kecil ( misalnya satu betina dengan beberapa jantan) yang merupakan hasil seleksi terbaik dari sifat-sifat yang dikehendaki.
Biasanya induk ikan jelawat sudah siap dipijahkan setelah 3-6 bulan dalam kondisi pemeliharaan secara terkontrol dan intensif. Penangkapan induk dilakukan dengan menurunkan permukaan air hingga sebatas punggung ikan. Dengan cara ini induk relatif lebih tenang dan tidak agresif sehingga mudah untuk dilakukan pemeriksaan gonad.
Ciri-ciri induk yang matang gonad:
Betina:
· Perut membesar dan lembut
· Lubang urogenital berwarna kemerahan
· Sirip dada halus dan licin
Jantan:
· Perut langsing
· Apabila diurut akan keluar cairan putih (sperma)
· Sirip dada terasa lebih kasar bila diraba (Anonim, 2004).
Induk matang gonad hasil seleksi ditimbang untuk mengetahui beratnya, sehingga dosis hormon dalam penyuntikan dapat ditentukan. Induk kemudian ditampung dalam bak berukuran 1kali 1m untuk proses penyuntikan.
E. Pemijahan
Pemijahan adalah proses pengeluaran sel telur oleh induk betina dan sperma oleh induk jantan yang kemudian diikuti oleh perkawinan. Pemijahan sebagai salah satu pacet dari reproduksi merupakan mata rantai siklus hidup menentukan kelangsungan hidup species. Penambahan populasi ikan tergantung dari kondisi tempat telur dan larva ikan kelas akan berkembang. Oleh karena itu, pemijahan menuntut keamanan bagi kelangsungan hidup larva/benih ikan,tempat yang cocok, waktu yang tepat dan kondisi yang lebih menguntungkan.
Pemijahan tiap spesies ikan mempunyai kebiasaan yang berbeda, tergantung pada habitat dan pemijahan itu untuk melangsungkan prosesnya. Dalam keadaan normal ikan melangsungkan pemijahan minimum satu kali dalam satu siklus hidupnya.
Di habitatnya di alam, ikan jelawat biasanya melakukan pemijahan pada musim penghujan, yaitu saat air naik dan menggenangi daerah sekitarnya. Dalam kondisi demikian, secara bergerombol ikan jelawat beruaya ke arah muara sungai. Dibagian muara sungai tersebut pemijahan terjadi biasanya pagi hari diiringi rintikan air hujan.
Selama musim penghujan ikan jelawat mampu memijah 2-3 kali pemijahan. Telur ikan jelawat bersifat melayang. Telur yang dibuahi tersebut dibawa arus ke bagian hilir dan menetas dalam perjalanan tersebut. Telur yang menetas dan menjadi larva tersebut memasuki perairan atau daerah genangan yang berada disepanjang sungai tersebut.
Pemijahan ikan jelawat dilakukan secara buatan (Induced Breeding). Pemijahan ikan dengan rangsangan hormon pada umumnya dilakukan terhadap jenis ikan yang tidak bisa memijah secara alami. Hal ini disebabkan oleh kondisi lingkungan tidak cukup untuk merangsang kerja hipothalamus dari ikan matang gonad untuk mengeluarkan luteneizing hormon releasing hormon (LHRH) yang akan merangsang kelenjar hipofisa untuk menghasilkan lebih banyak gonadtropin. Oleh karena itu pemijahan terkontrol membutuhkan penambahan hormon gonadtropin dari luar melalui penyuntikan.
· Penguasaan Teknik Kawin Suntik
Menurut Susanto (1997), penguasaan teknik kawin suntik akan mempengaruhi keberhasilan kegiatan pemijahan ini. Meskipun resipien telah siap dan peralatan lengkap, tetapi jika tidak didukung teknik penguasaan pelakunya maka keberhasilan kawin suntik masih diragukan.
Penguasaan teknik kawin suntik ini melliputi beberapa keterampilan berikut.
a. Teknik memilih induk
b. Teknik menghitung dosis
c. Teknik menyuntik
d. Teknik melakukan stripping
Dukungan lingkungan seperti tersedianya air bersih yang berkualitas baik dan jumlah yang cukup juga akan mempengaruhi keberhasilan kawin suntik. Air yang bersih dan kaya oksigen terutama dibutuhkan untuk menetaskan telur menjadi benih.
Sumber daya listrik juga merupakan faktor penting yang turut mempengaruhi keberhasilan kegiatan kawin suntik. Sarana ini terutama dibutuhkan pada pembenihan yang mengandalkan blower dan heater untuk membantu proses penetasan telur dan perawatan larva.
· Teknik Penyuntikan
Teknik penyuntikan dibagi menjadi tiga yaitu sebagai berikut:
a. Intra muscular ( penyuntikan ke dalam otot)
b. Intra peritonial ( penyuntikan pada rongga perut)
c. Intra Cranial ( penyuntikan pada rongga otak melalui tulang occipital bagian yang tipis)
Dari ketiga teknik penyuntikan tersebut yang paling umum dan paling mudah dilakukan adalah intra muscular. Penyuntikan secara intra muscular dilakukan pada punggung, yakni di bagian otot yang paling tebal. Pada ikan lele penyuntikan dilakukan pada ujung depan sirip punggung 1 cm ke samping kiri atau kanan. Dan bila dilakukan pada ikan bersisik seperti tawes, ikan mas, dan sebagainya, penyuntikan dilakukan pada 3-4 sisik ke bawah.
Teknik penyuntikan dilakukan dengan arah jarum suntik membuat sudut 60o dari ekor dan jarum dimasukkan sedalam kurang lebih 1,5 cm. Pada saat dilakuka penyuntikan sebaiknya ikan dibungkus dengan handuk agar tidak lepas. Pada ikan yang besar biasanya penyuntikan dilakukan oleh dua orang, yakni orang pertama memegang ekor dan kepala, sedangkan orang kedua menyuntikannya.
Ikan yang telah disuntikan dimasukkan dalam bak dan mendapatkan air mengalir yang cukup sehingga cukup mendapatkan oksigen atau dengan menggunakan aerator. Sedangkan dosis penyuntikan disesuaikan dengan ukuran serta spesies ikan resipient. Adapun syarat dan resipient adalah matang telur bagi yang betina dan matang sperma bagi yang jantan ( Susanto, 1997).
Adapun alat dan bahan yang digunakan yaitu:
v Kantong plastik atau karung
v Serok
v Baskom
v Handuk
v Bulu ayam
v Spuit dan jarum suntik
v Blower
v Corong penetasan atau akuarium
v Induk jelawat matang gonad
v Hormon ovaprim
v NaCl
· Metode Pemijahan
1. Untuk merangsang ovulasi induk disuntik dengan hormon perangsang berupa ovaprim dengan dosis 0,7 cc/kg untuk induk betina dan 0,5 cc/ekor pada induk jantan. Dalam setiap penyuntikan, hormon ovaprim diencerkan dengan aquabidest 0,5 cc.
2. Penyuntikan pada induk betina dilakukan sebanyak 3 kali dengan interval waktu:
- Penyuntikan I ke penyuntikan II selama 12 jam
- Penyuntikan II ke penyuntikan III selama 6 jam
3. Dosis hormon pada penyuntikan 1 ¼ dari total dosis dan penyuntikan II ½ dari total dosis dan penyuntikan III ¼ dari total dosis.
4. Penyuntikan induk jantan bersamaan penyuntikan II pada induk betina.
5. Setelah penyuntikan III induk betina, dilakukan pengambilan sperma induk jantan dengan menggunakan spuit yang dibahasi dengan larutan Natrium Klorida (NaCl). Sperma disimpan di tempat yang dingin.
6. 2-6 jam setelah penyuntikan terakhir pengaruh kerja hormonal biasanya mulai terlihat. Setelah itu dapat segera dilakukan pemeriksaan terhadap induk betina, bila sudah ovulasi ditandai dengan gerakan gelisah dan sering berenang ke permukaan.
7. Telur dikeluarkan dengan cara mengurut perut betina dan ditampung didalam wadah (baskom) diikuti dengan pencampuran sperma yang telah disiapkan.
8. Kemudian diaduk secara merata menggunaka bulu ayam
9. Setelah merata telur dicuci atau dibilas dengan air bersih 3-4 kali untuk menghilangkan kotoran dan sisa-sisa lemak yang bisa menggangu proses penetasan telur.
· Hal hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan stripping adalah sebagai berikut:
1. Ikan (induk) harus diperlakukan secara hati-hati dan lembut
2. Pergunakanlah alat tangkap yang halus (tidak kasar)
3. Wadah atau tempat penampungan telur/sperma dan bulu ayam sebaiknya disterilkan terlebih dahulu dengan menggunakan alkohol
4. Tempat penetasan telur harus disiapkan terlebih dahulu dengan baik
5. Pengadukan telur dan sperma harus benar-benar merata
F. Penetasan Telur
Telur diletakkan didalam akuarium yang telah disiapkan. Dalam penetasan telur, telur harus terus-menerus melayang dan tidak menumpuk didasar. Hal ini dapat dilakukan dengan sistem aerasi. Pada kondisi normal dan kualitas induk cukup baik, jumlah telur yang dikeluarkan berkisar 29.000-44.000 butir telur/kg induk.
Padat tebar 400-500 butir telur per liter. Selama penetasan, air harus dijaga kualitasnya (O2 4-8 ppm; pH 7,0-8,0 ; suhu 25-28 0C. Pada suhu air 25-28 0C telur akan menetas 18-4 jam setelah pembuahan. Titik kritis perkembangan embrio 5-6 jam setelah ovulasi. Telur yang baik berwarna hijau cerah dan terlihat berbentuk topi. Sedangkan yang mati berwarna putih. Dalam kondisi normal, tingkat pembuahan telur sekitar 80% dan tingkat penetasan sekitar 70%. Panen larva dapat dilakukan setelah berumur 1-2 hari untuk kemudian dipelihara di akurium atau bak lainnya (Anonim,2003).
G. Kualitas Air
Secara umum, kualitas air dapat dilihat dari 3 faktor fisik, kimia dan biologi. Untuk keperluan budidaya kualitas air merupakan suatu peubah (variabel) yang dapat mempengaruhi pengelolaan, kelangsungan hidup dan pembenihan/produksi ikan.
Kualitas air meliputi faktor fisika, kimia dan biologi yang biasanya dinyatakan dalam bentuk angka-angka yang diperoleh dengan melakukan pengukuran terhadap beberapa parameter tertentu:
1. Suhu
Suhu merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan terhadap proses kimia dan biologi. Suhu yang baik untuk kehidupan ikan didaerah tropis berkisar antara 25-350C, namun kadang-kadang suhu permukaan dapat mencapai 350C lebih sehingga berada diluar batas toleransi untuk kehidupan ikan (Zonneveld,Huisman dan Boon 1991). Menurut Anonim ( 2007), ikan jelawat dapat hidup pada suhu kisaran 23-31 0C.
2. Oksigen terlarut
Menurut Afrianti dari Evi (1994), oksigen terlarut merupakan variabel kualitas air yang paling mempengaruhi dalam budidaya ikan/udang. Meskipun beberapa jenis ikan dapat bertahan pada perairan yang kandungan oksigen terlarut 3 ppm, namun konsentrasi minimum yang masih dapat diterima oleh sebagian ikan untuk hidup dengan baik yaitu 5 ppm. Menurut Anonim (2007), ikan jelawat dapat hidup pada DO > 3 ppm.
3. Derajat Keasaman (pH)
Derajat keasaman (pH) singkatan dari Pulssince negatif of de H adalah teori yang digunakan untuk menjelaskan sifat-sifat senyawa didalam air. Pada umumnya pH yang cocok untuk semua jenis ikan berkisar antara 6,7 – 8,6 (Cholik dan Rahmat, 1986). Menurut Anonim (2007), ikan jelawat dapat hidup pada pH kisaran 6-7.
H. Pemeliharaan Larva dan Benih
Tempat pemeliharaan larva ikan jelawat dapat dilakukan di kolam, bak semen, dan akurium. Pada hari kedua dan ketiga pergantian dilakukan sebanyak 3 kali sehari. Sampai dengan hari ketiga larva tidak diberi makan. Pada hari keempat larva diberi makan berupa emulsi kuning telur sampai dengan hari kelima. Pada hari keenam dan ketujuh larva diberikan artemia (Kristanto, et al 1991).
Puslitbangkan (1992), menyatakan bahwa pemeliharaan larva biasanya dilakukan dalam akuarium selama 10-15 hari, telah dapat dikurangi hingga tiga hari saja dan seterusnya dipelihara dalam happa. Kolam sebelumnya dilakukan pemupukan sebelum diisi dengan air, hal ini dimaksudkan untuk menumbuhkan pakan alami yang merupakan pakan utama larva jelawat. Keuntungan dari metode ini ialah pertumbuhan dari larva dapat lebih cepat, penyediaan pakan lebih efisien dan kelangsungan hidup ikan tinggi. Pemeliharaan ikan jelawat dalam akuarium, diperlukan pakan alami yang telah dikultur secara khusus dan tambahan artemia. Dengan adanya modifikasi ini maka kultur pakan alami artemia tidak diperlukaan.
Perawatan larva termasuk pekerjaan yang rumit, sebab setelah telur menetas dan kemudian embrio memasuki fase larva akan terjadi proses peralihan yang masih terbentuk sangat primitif yaitu menjadi definitif dengan cara metamorfosis.
Tujuan dari perawatan larva adalah untuk merawat larva yang sangat rentan akan kematian. Larva yang baru habis kuning telurnya merupakan fase yang sangat perlu untuk diperhatikan terutama perubahan kualitas air yang mendadak dan suplai pakan juga harus diperhatikan. Pemberian pakan alami pada fase larva merupakan tindakan yang tepat karena bukaan mulut sesuai dengan pakan alami.
Fase larva ada dua macam yaitu pro-larva dan post-larva sehingga perawatannya pun harus dibedakan antara kedua hal tersebut.
a. Perawatan Pro-Larva
Fase pro-larva ditandai dengan adanya kuning telur dalam kantongnya. Dalam hal ini larva tidak memerlukan makanan tambahan dari luar tubuh, sehingga dalam perawatannya diperlukan perhatian yang khusus terhadap kesehatan larva ataupun kualitas airnya.
Kesehatan larva dapat dipantau dengan mendeteksi ada dan tidaknya hama ataupun penyakit sehingga dapat dilakukan upaya pencegahan. Agar kualitas airnya baik maka perlu menjaga parameter-parameter kualitas air untuk selalu dalam keadaan optimal (Kristanto, 1994).
b. Perawatan Post- Larva
Fase post-larva ditandai dengan menghilangnya kantong kuning telur dan timbul lipatan sirip serta bintik pigmen. Pada fase ini larva sudah memerlukan pakan tambahan dari luar tubuhnya untuk mempertahankan hidupnya dan pertumbuhannya. Agar mortalitas dapat ditekan seminimal mungkin maka harus diketahui kapan larva memerlukan pakan dan jenis pakan serta dosis pemberian yang tepat (Kristanto,1994).
Pemeliharaan larva jelawat dilakukan di akuarium dengan ketinggian air 15-25 cm dan kepadatan 80 ekor/liter selama 10-15 hari pemeliharaan. Setelah itu dijarangkan menjadi 25-40 ekor/liter. Saat masih larva, organ pencernaan pada tubuhnya masih belum sempurna. Jenis makanan yang terbaik diberikan pada kondisi tersebut adalah makanan hidup atau alami seperti naupli artemia atau infusoria sehingga bila terjadi kelebihan tidak mengotori media pemeliharaan.
BAB III Penutup
Kesimpulan
Ikan jelawat merupakan ikan asli perairan Indonesia yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan digemari masyarakat sehingga sangat potensial untuk dikembangkan. Dewasa ini budidaya ikan jelawat masih terkendala oleh ketersediaan benih, karena keperluan benihnya masih sangat tergantung dari hasil penangkapan diperairan. Selain itu, ketersediannya juga bersifat musimam dan ukurannya tidak seragam karena dapat mempengaruhi ukuran makanan yang disesuaikan dengan bukaan mulut ikan.
Untuk mengatasi kendala pembenihan tersebut diperlukan penelitian untuk menguasai teknologi pembenihannya. Dengan penguasaan teknologi pembenihan ini diharapkan dapat diproduksi benih ikan jelawat secara massal dan berkesinambungan, sehingga keperluan benih tidak lagi tergantung dari hasil penangkapan di alam yang bersifat musiman.
Dalam proses pemijahan buatan induk ikan jelawat digunakan hormon ovaprim yang berguna untuk merangsang kerja hipothalamus dari ikan matang gonad untuk mengeluarkan luteneizing hormon releasing hormon (LHRH) yang akan merangsang kelenjar hipofisa untuk menghasilkan lebih banyak hormon gonadotropin yang berperan untuk merangsang terjadinya pembuahan sel telur.
Sel telur yang sudah dibuahi akan mengalami masa inkubasi selama kurang lebih 24 jam untuk kemudian menetas menjadi larva. Larva akan berkembang dari pro larva, post larva dan akhirnya menjadi benih. Pada umumnya perkembangan larva sampai menjadi benih pada ikan memerlukan waktu kurang lebih 10-15 hari.
DAFTAR PUSTAKA
Afrianto, E dan Evi Liviawaty, 1994. Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Angin, Karyawan Perangin,2003. Benih Ikan Jelawat. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Anonim, 1998. Petunjuk Teknis Proyek Bantuan Penangkar Bibit Pertanian (Inpres Dati II). Departemen pertanian Sekretariaat Jendral. Jakarta.
Anonim,2003. Pembenihan Ikan Jelawat (Leptobarbus Hoeveni) secara buatan. Departemen
Kelautan dan Perikanan. Direktorat Jendral Perikanan Budidaya. Loka Budidaya Air Tawar Mandiangin. Kalimantan Selatan. Mandiangin.
Anonim,2004. Pembenihan Ikan Jelawat (Leptobarbus Hoeveni). Departemen Perikanan dan Kelautan. Direktorat Jendral Perikanan Budidaya. Direktorat Perbenihan. Kalimantan Barat.
Anonim,2007. Pelatihan Pengelolaan dan Pembenihan Ikan Jelawat (Leptobarbus Hoeveni). Balai budidaya Air Tawar Mandiangin. Direktorat Jendral Perikanan Budidaya. Departemen Kelautan dan Perikanan. Mandiangin.
Cholik,F dan Rahmat,A,1986. Manajemen Kualitas Air Pada Kolam Budidaya Ikan. Direktorat Jendral Perikanan Research Centre, Jakarta.
Elliot,1979. International Center For Living Aquatic Resource Management. Consuling Services for Development of aquculture and Fisheries.
Hardjamulia, Atmaja,1992. Informasi Teknologi Budidaya Ikan Jelawat (Leptobarbus Hoeveni Blkr). Balai Penelitian Perikanan Air Tawar. Bogor.
Kiswalejo, Tjahjono,2003. Keteknikan Budidaya Air Tawar. Departemen Kelautan dan Perikanan. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perikanan. Jakarta.
Kristanto,Anang Hari,1994. Nutrisi Pakan dan Aplikasinya pada Pematangan Gonad Ikan Jelawat. Pelatihan Teknik Penyuluhan Pertanian Lapangan Dinas Perikanan Dati I. Kalimantan Selatan.
Kristanto,1994. Pengelolaan Induk Ikan Jelawat. Pelatihan Teknik Penyuluhan Pertanian Lapangan Dinas Perikanan Dati I. Kalimantan Selatan.
Kristanto,1994. Perawatan Larva dan Post Larva Ikan Jelawat. Pelatihan Teknik Penyuluhan Pertanian Lapangan Dinas Perikanan Dati I. Kalimantan Selatan.
Onadara dan Sunarno, 1988. Upaya Ikan Jelawat (Leptobarbus Hoeveni blkr). Prosiding
Seminar Nasional Ikan dan Udang. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Bekerjasama dengan Universitas Padjajaran, Bandung.
Schmittou,H. R. 1991, Cage Culture A Method Of Fish Production In Indonesia. FRDP, Central Research Institute For Fisheries, Jakarta.
Susanto,Heru, 1997, Teknik Kawin Suntik Ikan Ekonomis. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sutisna, Dedy Heryadi dan Ratno Sutarmanto. 1995. Pembenihan Ikan Air Tawar. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Waynarovich, E dan Horvath. 1980. Elementary Guide to Fish Culture in Nepal, Rome.
Woothon, 1979. Pratical Manual For The Culture of Fisheries. Netherland.
Zooneveld, N.H, Husman, E.A dan Boon, J.H, 1991. Prinsip Budidaya Ikan. Garamedia Pustaka Utama. Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar